Friday, August 7, 2020

[Cerita dan Tarian) IV - Taaruf

(cerita sebelumnya [Cerita dan Tarian] III)



"Sarah sudah ada calon? Kalau belum, ini ada yang mau taaruf." tiba-tiba sebuah pesan singkat muncul di notifikasi ponselku. Dari seorang kawan lama. Aku bingung apa yang harus kujawab. Hampir satu bulan masih saja tak ada tanda-tanda ia akan menjawab pertanyaan pertama. Ia bahkan tetap pergi ke Vietnam mengunjungi kawan wanitanya, yang sebenarnya juga kawanku. Tak ada yang salah sebenarnya dengan perjalanan dia ke Vietnam, karena memang ia sudah merencanakan jauh-jauh hari sama halnya rencana perjalanan ke Indonesia. 

"Akhir Desember aku mau pulang ke Indonesia, karena sepupuku mau nikah. Kamu jadi mau ikut tak? Mungkin ini kesempatan terakhirmu ke mengunjungiku di Indonesia lho," kataku beberapa bulan lalu seusai lab party di rumah kontrakannya . Waktu itu aku belum kepikiran tentang tiga pertanyaan. Jangankan tiga pertanyaan, pemikiran bahwa aku mulai tertarik padanya saja berkali-kali kutepis. Namun, nafsu sering kali terus berusaha mencari tempat di hati sehingga bayangan berperjalanan pulang kampung dengan seorang kawan, apalagi dengannya, terasa sangat menyenangkan.

"Iya sih... Aku kupikirkan lagi nanti."

"Jangan kelamaan mikirnya. Paling lambat Senin besok kabari keputusanmu ya. Aku mau beli tiket hari itu karena akan ada diskon Senin itu sampai jam 24."

"OK!" 

Sebenarnya tak hanya dia saja yang kuajak ke Indonesia. Kuajak pula kawan-kawan lain agar lebih ramai dan seru perjalanan mudikku nanti. Tapi sejauh ini tidak ada meng-iya-kan ajakanku dengan berbagai macam alasan. Pada akhirnya hanya dia yang nampaknya masih tetap ada keinginan. Namun hinggal 2 bulan sebelum tanggal kepulanganku ia belum juga memberi keputusan, padahal aku harus segera memesan tiket.

"Oh ya, kalau kamu beneran jadi ikut, itu membuatku jadi lebih bahagia. hahaha," tambahku sebelum aku benar-benar pulang bersama kawan yang lain. Dia tampak tersenyum. "Membuatku jadi lebih bahagia". Tak kusangka aku benar-benar mengucapkan itu. Hari itu aku memang berencana mempraktikkan 'ilmu' dari sebuah video dating tips yang kutonton beberapa hari ini, semacam tips-tips motivasi untuk menjadi diri yang lebih menarik dan memahami apa yang biasanya terjadi dalam sebuah hubungan laki-laki dan perempuan. "Ungkapkan dengan jelas bahwa keberadaannya membuat kita lebih bahagia", kata motivator dalam video itu.  Kupikir It Works!  Ia tersenyum dan keesokan harinya konfirmasi kalau dia mau ikut liburan ke Indonesia akhir Desember nanti. 

Tak kusangkan perasaanku padanya akan berkembang sampai ke tahap ini. Rasanya aku masih ingin menanti jawabannya. Tapi aku pun tak mau jatuh ke lubang kesalahan yang sama. Bagaimana jika lelaki yang ditawarkan kawanku ini adalah jawaban Allah atas doaku?

"Siapa mbak?" pesan balasanku terkirim. 

"Sarah juga kirim CVnya ya, nanti mbak kirim CV ikhwannya agar adil, karena ikhwannya jg belum tahu siapa akhwatnya :) "

Kuletakkan ponselku, ambil air wudhu dan sholat dua rakaat. Dalam kebimbangan, aku menangis dan memohon petunjuk dari Allah. Apa yang harus kulakukan? Entah berapa menit kuberdiam dan merenung hampa hingga akhirnya setelah menghela nafas panjang, kuraih kembali ponselku.

"OK mbak. Nanti kukirim CVku ya." Terkirim. 
 
Yaa muqallibal quluub tsabbit quluubanaa 'ala diinik. Wahai Dzat yang Maha membolak balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu. 
Aku tak tahu apakah keputusan untuk taaruf ini akan mnejadi ujung penantianku meskipun hati kecilku masih mengharap jawaban darinya. Ah sudahlah, aku hanya bisa mengusahakan yang bisa aku usahakan. Aku lelah dengan urusan hati seperti ini. Ingin segera kumengakhirinya dan ganti ke tantangan hidup berikutnya. 

Kubuka file CV taarufku yang selalu ku-update setiap tahunnya meskipun tak pernah mendapat balasan. Setelah cek data sekali lagi, tak pikir panjang lagi segera kukirimkan file PDF ke kawanku itu. Tak berapa lama kemudian aku mendapat CV balasan.

Hmmm.......

Untuk pertama kalinya aku menerima CV seorang lelaki. Aku kenal lelaki itu hampir sepuluh tahun yang lalu namun hanya sebatas kenal. Kubaca dari profil lelaki itu dari halaman pertama sampai selesai. Yang kutahu memang ia lelaki yang baik. Tapi hati ini sama sekali tak bereaksi apapun. 

Ya Rabb.... ada apa dengan hati ini? 

Kuminta Isti, sahabatku yang juga mengenal lelaki ini lebih baik dariku, untuk membantuku berpikir jernih. Namun hingga tiga hari kemudian tak ada yang berubah. Masih tidak ada rasa sama sekali. Aku takut jika kuteruskan, aku malah akan berbuat dholim pada lelaki ini. Isti yang sangat mengenalku sejak sepuluh tahun yang lalu pun paham.  

Ya Rabb.... ada apa dengan hati ini? Ampuni hambamu ya Allah....  Aku pun takut dengan ancaman Rasulullah tentang menolak lelaki sholih. Tapi hati ini tak tergerak sama sekali untuk mencari lebih dalam.


(bersambung) 






 

1 comment:

  1. kapan lanjutannya mbak 😄😄
    kyaknya bisa di jadiin novel mbak 😄😄😄.
    gimana kabar d jepang mbak?
    apa baik baik saja dsana?
    tidak lockdownkah?

    ReplyDelete