Thursday, October 30, 2014

Untukmu Teman


It's about your friends
Sometimes they make you smile
support you
but sometimes they make you cry
make you angry
make you annoyed
or may be (you feel) they betrayed you

Sedih rasanya melihat seorang teman berakhir musuhan dengan sahabatnya karena orang baru yang masuk.
Pernah ga kamu lihat teman kita menjauhi sahabat-sabahatnya karena lelaki yang baru-baru saja memasuki hatinya dan mewarnai hidupnya.
Warna yang diberikan lelaki itu menutup sebagian besar warna yang pernah diberikan sahabat-sabahatnya.
Tau ga, gimana perasaan seorang sahabat yang selalu memikirkanmu, berusaha untuk selalu men-support-mu, berusaha memahamimu, berusaha membantumu setiap saat setiap waktu ternyata harus menerima pernyataan pahit dengan pernyataan "musuhmu adalah temanmu" karena ternyata usahanya itu tidak sejalan dengan maksudmu.

Bukan, bukan. Itu bukan kisahku. Tapi itu aku kulihat di beberapa temanku. Melihatnya saja rasanya sedih banget. Rasanya ikut sakit hati. Memang sih, kadang (mungkin sering) teman kita membuat kita sebal, dan mungkin yang dia lakukan tidak sejalan dengan maksud kita sehingga ketidakselarasan tujuan tidak tercapai #apasih. Maksudnya, mungkin maksud teman baik kita jadi nampak suatu hal yang buruk menurut kita. Atau ketika dia sedang tidak dalam kondisi psikologis yang baik, tanpa ia sadari ia melakukan hal-hal yang menyakiti teman yang lain.

Ya aku pernah merasakan itu, tapi setelah kucermati, bisa jadi hal buruk yang dilakukan teman kita entah sadar atau tidak kita juga melakukannya. Seiring bertambahnya umur- #uhuk- membuatku semakin berhati-hati menghakimi orang karena ya itu, bisa jadi tanpa kita sadari kita juga menyakiti orang lain dengan cara yang sama, melakukan hal-hal buruk yang dulu kita hina, dan berperilaku seperti orang-orang yang dulu kita cerca.

Monday, October 13, 2014

That's Why You Need Quality Assurance

hohooooo and then I found the answer from Quora but sorry I forget from whom :D

  1. They are not afraid of destructive testing. Developers subconsciously avoid negative scenario testing. If you use an application a specific way, you'll hear them exclaim: "You're not supposed to do that!"
  2. They find hidden defects. Developers in high stress situations may often not reveal low-probability error scenarios, thinking "I'll fix this next time. No one will notice it anyway."
  3. They have greater discipline for defect tracking, prioritization and reporting. Developers are generally averse to documentation, though there are always a lot of exceptions. They tend to hold a lot of defect information in their head. "Oh I already know that one. Johnny and I discussed it and we figured we'll fix it in the patch next month." "Is it being tracked?" "Its already fixed in the branch. So its not a problem."
  4. They don't tire of regression - it's their job. Developers are bored of regression testing. If they are sure a change won't impact a related function logically, they don't test it. Its pointless and boring. QA staff does not take such risks and defects do emerge - we are human after all and cannot think of every scenario.
  5. A dedicated, restricted QA environment enforces deployment discipline, so you have fewer surprises during go-live. Developers have a tendency to tinker with code and databases ad-hoc on every environment they have control over.
  6. Products usually start with great design and usability, but then reality creeps in as some features are too complex, others are just not feasible as designed, competing products introduce a hot new feature, or somebody just got a killer feature idea. Both product managers and developers are up to their ears with minute decisions and changes every day and it is easy to lose sight of the overall experience. QA plays a vital role as a check point to ensure the product remains usable through all this.
  7. There is specialized QA staff for performance testing, vulnerability testing, accessibility testing, etc. and they are much more effective and efficient at these than developers.
  8. Product managers and end-users are not as effective as dedicated QA staff. They have their own day jobs.
lol, I think who worked in this enviroment really understand >_<


Sunday, October 12, 2014

Today's Lyrics

Beberapa hari lalu pas streaming radio ada lagu lucu, tapi ga tahu judulnya, apalagi penyanyinya. lucu gimana? ya pokok'e lucu #caseClose

Nah, tadi pas buka youtube ada thumbnail video yang (kayaknya) lucu dan ternyata merupakan video dari lagu lucu yang beberapa hari lalu kudengar *nah loh pie kui bahasane -_-

Penyanyinya Meghan Trainor yang beberapa waktu ini lagu-lagunya nge-hits di youtube. Lagu yang kudengar di radio itu judulnya All About That Bass--aransemennya menurutku lucu--yang berisi pesan kepada para wanita (dan penyanyinya sendiri) bahwa berat badan yang selama ini jadi 'masalah' bagi beberapa wanita sebenarnya bukan masalah. Pesan moralnya menurutku cukup dalem mengingat tren wanita berlomba-lomba untuk tampil cantik dengan definisi tinggi semampai, ramping, dan putih. Ngomong-ngomong tinggi, ramping, putih mah bukannya ciri-ciri mbak kunti yak *krik krik.

Tak jarang untuk bisa tampil cantik, seorang wanita harus merogoh kantong dalam-dalam. Bahkan ada yang pakai berbagai shortcut seperti oprasi plastik misalnya.

Habis buka youtube trus pas buka facebook *uripku kok koyone mung fb karo yutupan tok sih -__-
Nah, ada temen share ini
:: Jangan Puji Anak Perempuan Cantik ::
Ada sebuah kisah menarik yang dituangkan Lisa Bloom, pengarang ‘Think: Straight Talk for Women to Stay Smart in a Dumbed-Down World’. Menurutnya, anak perempuan sekarang bertumbuh dengan keinginan besar untuk tampil cantik, daripada tampil pintar. Mereka lebih khawatir kalau mereka tampak gemuk dan jelek.
Dalam bukunya, ia menunjukkan bahwa 15-18% anak perempuan di bawah dua belas tahun saat ini sudah memakai maskara, eyeliner dan lipstik. Kepercayaan diri anak perempuan menurun kalau tidak merasa cantik. Hampir 25% remaja perempuan akan merasa bangga menang America's Next Top Model daripada memikirkan untuk memenangi Nobel.