Wednesday, November 25, 2020

Rasa yang Tak Sama

Saat itu umurku 20 tahun ketika salah sahabatku menikah. Setelah menikah dia berubaha total, bahkan tidak meneruskan kuliahnya. Aku sempat marah dan tidak terima, tapi aku bisa memahami keadaaannya waktu itu karena, pertama, dari awal dia memang tidak suka jurusan kuliahnya, dan yang kedua, memang suaminya berbeda pemikiran tentang cara pandang sebagian besar dari kita saat itu. Ah agak susah menjelaskannya, intinya aku tidak kaget ini akan terjadi.

Tapi, ketika sahabat keduaku menikah tahun berikutnya, aku benar-benar tidak bisa menerima perubahan dia saat itu. Tentu saja aku sangat bahagia atas pernikahannya dan rela menempuh perjalanan jauh untuk menghadiri pernikahannya. Berbeda dengan sahabat sebelumnya, yang kedua ini aku tidak menyangka perubahannya akan se-signifikan itu. Ada beberapa perubahan sikap yang aku tidak bisa terima saat itu sehingga dia benar-benar menangis karena tak tahu harus bagaimana. Tapi akhirnya aku sadar, biar bagaimana pun, prioritas sahabatku itu sudah bergeser. Rasanya pertemanan kita beberapa tahun ini tak ada pengaruhnya sama sekali. Sejak kejadian (pertengkaran) kita waktu itu, meskipun tidak diucapkan dengan kata-kata, aku mundur teratur menarik diri dari kehidupannya dan (waktu itu) sepertinya dia tidak begitu peduli. Ah sudahlah...

Friday, November 13, 2020

Dear My Brothers

Thank you for trusting me.
Thank you for sharing your feeling,
your thinking,
your idea.
Thank you for calling me,
asking for my comments and suggestion.
It really means to me. 
I feel like I can do my job as your sister,
to be your friend that you can talk to.

I know that I wasn't a good sister for you
I was too selfish
I was too judgemental
I was too arrogant
to just listen to and understand you.
I am also in the progress to be the better of me
and I am sure you also see me growing,
to be a better person.

I mostly have a busy time,
if you know me, indeed I always try to be busy.
But for you, 
I always try to make time.
Because busy or not is a matter of priority.

Friday, August 7, 2020

[Cerita dan Tarian) IV - Taaruf

(cerita sebelumnya [Cerita dan Tarian] III)



"Sarah sudah ada calon? Kalau belum, ini ada yang mau taaruf." tiba-tiba sebuah pesan singkat muncul di notifikasi ponselku. Dari seorang kawan lama. Aku bingung apa yang harus kujawab. Hampir satu bulan masih saja tak ada tanda-tanda ia akan menjawab pertanyaan pertama. Ia bahkan tetap pergi ke Vietnam mengunjungi kawan wanitanya, yang sebenarnya juga kawanku. Tak ada yang salah sebenarnya dengan perjalanan dia ke Vietnam, karena memang ia sudah merencanakan jauh-jauh hari sama halnya rencana perjalanan ke Indonesia. 

"Akhir Desember aku mau pulang ke Indonesia, karena sepupuku mau nikah. Kamu jadi mau ikut tak? Mungkin ini kesempatan terakhirmu ke mengunjungiku di Indonesia lho," kataku beberapa bulan lalu seusai lab party di rumah kontrakannya . Waktu itu aku belum kepikiran tentang tiga pertanyaan. Jangankan tiga pertanyaan, pemikiran bahwa aku mulai tertarik padanya saja berkali-kali kutepis. Namun, nafsu sering kali terus berusaha mencari tempat di hati sehingga bayangan berperjalanan pulang kampung dengan seorang kawan, apalagi dengannya, terasa sangat menyenangkan.

"Iya sih... Aku kupikirkan lagi nanti."

"Jangan kelamaan mikirnya. Paling lambat Senin besok kabari keputusanmu ya. Aku mau beli tiket hari itu karena akan ada diskon Senin itu sampai jam 24."

"OK!" 

Sebenarnya tak hanya dia saja yang kuajak ke Indonesia. Kuajak pula kawan-kawan lain agar lebih ramai dan seru perjalanan mudikku nanti. Tapi sejauh ini tidak ada meng-iya-kan ajakanku dengan berbagai macam alasan. Pada akhirnya hanya dia yang nampaknya masih tetap ada keinginan. Namun hinggal 2 bulan sebelum tanggal kepulanganku ia belum juga memberi keputusan, padahal aku harus segera memesan tiket.

"Oh ya, kalau kamu beneran jadi ikut, itu membuatku jadi lebih bahagia. hahaha," tambahku sebelum aku benar-benar pulang bersama kawan yang lain. Dia tampak tersenyum. "Membuatku jadi lebih bahagia". Tak kusangka aku benar-benar mengucapkan itu. Hari itu aku memang berencana mempraktikkan 'ilmu' dari sebuah video dating tips yang kutonton beberapa hari ini, semacam tips-tips motivasi untuk menjadi diri yang lebih menarik dan memahami apa yang biasanya terjadi dalam sebuah hubungan laki-laki dan perempuan. "Ungkapkan dengan jelas bahwa keberadaannya membuat kita lebih bahagia", kata motivator dalam video itu.  Kupikir It Works!  Ia tersenyum dan keesokan harinya konfirmasi kalau dia mau ikut liburan ke Indonesia akhir Desember nanti. 

Friday, June 19, 2020

Dear Rina

Never come with an empty hand to me


Dear Rina,

I wanna say “How are you doing”, but you might not like that “meaningless” question. So, I ‘just’ wishing you all luck and happiness always.

Rina, first of all, I wanna say thank you.

Thank you to be one of my best friends.

Thank you that you were there in my darkness time.

Thank you to always come to cheer me, drive along from Kanazawa to in-the-middle-of-nowhere no matter what time.

You always try to be there when I said I need you.

Listening all the repetition “garbage”-boring story.

Forced you to eat my fail cakes and foods.

In opposite way, sometimes you cook and came to my lab and we have lunch together. You always come with delicious food to me.

I am really feel loved with everything you did for me. Make feel like human again. That time, the time that I realized that all I need is friend.

And you give that.  You were there. That means A LOT to me. I owe you much that I’ve never been able to repay. 


I am sorry I couldn’t do anything for you.

Not there when you need. I am too stubborn and selfish and not doing anything for you.

I miss you.
I still wanna be your friend.

But I don’t know if I am still qualified for that.

I am sorry I don’t have enough word to express how much I feel guilty of you. 

How much I still wanna be friend with you.

How much I still wanna talk like we used to do.

But I don’t know if I still deserve that, to be your buddy.


I am scared and really scared that I have done really really bad to you.

I know I must have make big mistake (or it’s an accumulation of small mistakes) to you.

I didn’t know that I have treated you that bad.

And I eventually I am one of those toxic people for you.

When I realised that I cannot contact you again, 

I was thinking to come directly to your house or to your working place to see you. To ask you to tell me what I’ve done and say sorry.

But then I always think that that’s what you want. 

It’s hard but I try to respect your decision.  

So I wait. I keep waiting and considering what to do. 

I am really miss you, wanna thankful to you what you have done to me and sorry to what I have done. But seems that I have to hold myself.

Finally I tried to reach you again through Sakai san. But seems you still mad at me at that time. 


I keep thinking my big fault to you and some things that might make you decide to cut all the contact with me.

To be honest, I never thought that I will do so much bad to you that make you do that. But apparently I did. 

I am really really sorry, Rina. I really don’t want to hurt you. I am sorry I didn’t care much as you care me. I am sorry I failed to treat you well as you treat me. I am sorry I get along with people whom you don’t like. I am sorry to keep doing something you don’t like or even hate. I am sorry to hurt you so much. I am sorry. I am sorry. I am really sorry. I am sorry, Rina.

I wish I can do something to amend this. But I don’t know how and what to do. 

I wanna ask how can I do to make amends to you and repair our relationship. 

I want you tell me what can I do for you?


But I don’t want to force you if you really don’t want to and I don’t want to put you in the position that you have to do. I don’t wanna hurt you more.

I wish someday you will forgive and accept me again as your friend.  

You are one of my best friends that really really owe much. You’ve saved my life. You did so much so to me while I did nothing for you, enough to see that I just taken you for granted. So, I am waiting the time that you will allow me to come to you. 

In my heart, you are still my best friend and I hope at least you can accept me to be your friend again someday. 


-See you-

Wednesday, June 17, 2020

Cerita di Balik Layar

"Kok nikah sama mualaf? Kenapa ga sama yang dari awal muslim?"

"Kenapa ga nikah aja sama orang Indonesia?"

"Gimana tu nikahnya? Kok orang tua ngijinin?"

"Gimana perasaan orang tua? Anak perempuan satu-satunya nikahnya harus orang lain yang menikahkan."

and so on, so forth. 

Hokkoku-shinbun (Harian Hokkoku), 26 Mei 2020
Tanggal 29 Desember 2019, hari itu hari dimana kami mendapat restu orang tua untuk menikah asalkan lelaki itu menjadi muslim dan mau terus belajar dan berusaha menjadi muslim yang utuh. Sejak hari itu kami pun fokus dengan belajar lagi untuk menjadi muslim yang paling standar (memenuhi rukun Islam). Awalnya kami berpikir akan membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk membuatnya yakin memutuskan masuk Islam.  Namun, ternyata sejak tanggal 29 Desember 2019 itu kami intens berdikusi tentang Islam dan dia pun di hari yang sama tiba-tiba berinisiatif untuk mulai ikut sholat. Detail mengenai bagaimana kami pertama mengenal hingga akhirnya memutuskan untuk menikah aku tulis di postingan lain dalam bentuk cerita bersambung yang berjudul Cerita dan Tarian. Dalam cerita tersebut, nama disamarkan (meskipun mudah untuk dikenalisih), tapi kejadiannya nyata. Ceritanya pun belum selesai ditulis. Masih bersambung.

Long story short, berawal dari kunjungan ke rumah Pak Matsui dan mbak Hikmah, sebagai sesepuh Ishikawa Muslim Society, pada tanggal 4 Januari 2020,